Kamis, 07 Maret 2019

Khutbah Jumat tentang bagaimana kehidupan seorang hamba


Jamaah jumat yang berbahagia.
Marilah kita bersyukur kepada Allah atas limpahan kenikmatan yang telah kita rasakan sampai saat ini. Perlu kita ketahui bahwa karena nikmat Allah-lah kita bisa menemui Jumat ini dan berkumpul di masjid ini. Tidak ada yang layak untuk kita dustakan bahwa nikmat Allah memang tidak terhingga banyaknya.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Kita semua adalah hamba Allah. Barangkali di hati seseorang terbesit sebuah pertanyaan, ‘Apakah Allah memahami dan memperhatikan kita semua ini sebagai hamba-Nya? Seperti majikan yang mempunyai pekerja banyak, apakah seorang majikan itu pasti perhatian secara penuh terhadap semua pekerjanya?” jawabannya adalah, tergantung pekerjanya." jika pekerjanya itu memberikan perhatian penuh kepada majikannya. maka majikan pun mempunyai perhatian khusus kepadanya. Di sinilah pentingnya menjadi orang muslim yang berikhtiar terus menerus, bagaimana agar diri kita betul-betul diperhatikan secara khusus oleh Allah.
Perlu kita ketahui bahwa Allah tidak akan pernah mendzalimi kita. Semua yang ada di tangan Allah itu tidak gratis. Konsep dalam Islam, semuanya tidak ada yang gratis dan harus ditebus dengan amal. Tidak sama dengan konsep dan agama-agama lain yang menggunakan penebus dosa.
Contoh yang paling nyata, tepatnya di daerah pantai Rio de Janeiro itu ada patung Yesus yang dibangun di puncak gunung dengan ketinggian patung sekitar 700 meter. Patung tersebut sangat besar dengan tangan terbuka menghadap pantai dan orang-orang. Penduduk setempat menyebutnya sebagai Kristus Penebus. Seolah olah kemaksiatan yang terus-menerus dilakukan di pantai itu sudah ditebus oleh tuhan yang ada di gunung itu sehingga konsep agama seperti ini cocok untuk turis-turis yang tidak mengenal dosa dan akhirat. Islam tidak seperti itu. Karenanya, pertanyaan yang sangat mendasar terhadap diri kita sendiri. sudahkah kita ini berbuat atau mempunyai perbuatan yang menyenangkan Tuhan yang tidak lain adalah Allah? Pertanyaan ini menjadi penting karena ini merupakan kepentingan kita sendiri.
Ada satu hal yang tidak enak disampaikan, tetapi penting untuk direnungkan. Jika ada orang beriman, percaya kepada Allah, tetapi maaf, kehidupannya terlunta-lunta, tidak enak, itu salahnya sendiri. Bukan bermaksud untuk menyakiti hati mereka yang kekurangan, tetapi marilah kita merenungkannya.
Jika memberikan resep secara imamyah dan syahadah, maka persoalan kehidupan yang serba uang ini bisa terselesaikan. Jika kita bersyahadat, bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah, tidak mungkin kehidupan kita tidak bahagia. Sementara itu, jika kita mempunyai prestasi khusus yang diperhatikan, yang membuat Allah senang, maka kita yang syahadat betul, memberi peran sebesar-besarnya untuk mengatur hidupkita. Jika kita melakukan seperti itu, tidak mungkln hidup kita tidak enak.
Banyak orang yang tidak bisa menghubungkan antara keimanan, ketakwaan, dan rezeki. Untuk itu, kita harus menghubungkannya. Mari kita coba, keimanan kita diubah. Harus ada sebuah treatment yang revolusioner. Mengubah ekonomi, kita melibatkan Allah. Optimalkan keimanan kita, Contohnya; dalam hal shalat, ikuti jam pertemuan dengan Allah yang wajib, lima kali sehari tepat dan awal waktu, secara berjamaah. Alasan apapun, tinggalkan. Ikuti jam pertemuan kepada Allah tersebut. Datang ke masjid sebelum adzan berkumandang. Seperti kita menyambut tamu besar, kita dahulu yang datang. Bukannya Allah yang menunggu, memanggil-manggil, kita baru datang.
Barangkali jam tatap muka kurang banyak, tambahlah dengan waktu-waktu lain. Ada waktu duha sebagai waktu ekstra. Shalat duha minimal dua rakaat. Di situ Allah memberi peluang khusus untuk konsultasi ekonomi. Allah memberikan konseling, bimbingan, dan keterbukaan. jadi,ada ruang khusus. bahkan dengan doa-doa yang sangat Spektakuler. In kaana rizqii fil ardhi fa akhrijhu. jika rezekiku tersembunyi di bumi maka keluarkanlah, jika rezekiku sangat jauh maka dekatkanlah, jika rezekiku menggantung di langit maka turunkanlah. jika rezekiku sedikit maka banyakkanlah. kalau rezekiku sulit maka mudahkanlah. dan lain-lain.
Jarang sekali peluang bimbingan bisnis yang sangat revolusioner seperti ini terbuka. Sedikit sekali orang yang mau memanfaatkannya. Bahkan masih mengandalkan dirinya, kekuatan ototnya. dan Allah tidak diberi peran untuk itu.
Tidak hanya itu, bahkan Allah memberikan jam tatap muka tambahan. Ketika orang-orang sudah tidur lelap di malam hari. maka bangunlah. Mencoba berbisik kepada Allah, meminta. datang sendiri. Biasanya anak yang meminta uang datang sendiri, tanpa diketahui oleh saudara-saudara lainnya itu diperhatikan orangtua. Apalagi jika Allah kita datangi dengan berbisik. Besok malam kita datangi lagi, mintai lagi, terus-menerus. Orang yang amalnya seperti ini, kedekatan dengan Allah,pembacaan kitab suci-Nya, membaca al Fatihah, sekian kali, surat al Waqi'ah sekian kali, aktif shalat Duha, dan aktif shalat Tahajud, tidak mungkin miskin.
Allah tidak mungkin ingkar janji. jadi, keimanan kita harus totalitas, baik hubungan kepada Allah dari segi 'ubudiyyah maupun hubungan kepada Allah dari segi mana saja. Untuk itu, saya tidak membicarakan hal-hal yang lain, tetapi membahas kebahagiaan, bukan membicarakan uang. Perkara takaran rezeki seberapa, Allah sudah mengatur sendiri. Akan tetapi, perkara ketercukupan itu bisa direka-reka.
Allah memberikan jaminan. Begitu makhluk dicipta, dijamin dengan lafal wa ma min dabatin fil ardhi ilIa 'ala AIIahi rizquha. Lafal dabba-yadubbu berarti bergerak, merambat. Akan tetapi, harus ada ikhtiar. Dan, ikhtiar yang paling revolusioner adalah ikhtiar lahiriah yang dibarengi dengan ikhtiar batiniah. Itulah pandangan hidup yang mengarah kepada kebahagiaan ukhrowi.
Selain itu, ada nilai plus yang bisa dibangun oleh orang-orang tertentu, yang itu tidak bisa dibangun oleh orang orang biasa. Ketika Khalifah al Makmun meminta pandangan kepada seorang ahli hikmah tentang proyeksi kehidupan anak keturunannya ke depan. maka dijawab dengan bahasa penuh hikmah tentang empat konsep. yang salah satunya harus ‘iIm ya'isyu bih. Maksudnya. agar anak itu dibekali ilmu, dengan ilmu itulah dia bisa hidup.
Kiai-kiai dulu mengatakan bahwa tanda-tanda ilmu bermanfaat salah satunya adalah dia bisa hidup dengan ilmunya. Dengan ilmunya itulah Allah memberi rezeki. Maaf, saya ingin membuat gambaran bahwa ada orang yang harus cari sendiri, dan ada orang yang bisa bersantai dan menikmati. Contoh, orang yang tidak mempunyai nasab yang baik, yang biasa saja seperti kita ini, bukan keturunan nabi, bukan keturunan kiai besar. Yang merasa bukan punya nasab yang hebat seperti itu harus berikhtiar sekuat tenaga karena tidak bisa mengharap barokah dari kakek kakeknya.
Akan tetapi, Allah memberikan anugerah kepada orang yang memang sejak lahir itu punya fasilitas. Saya ambil contoh seperti keturunan Rasululloh SAW, baru lahir saja sudah didoakan oleh umat Islam seluruh dunia. Untuk ltu, persoalannya adalah sebuah transaksional bahwa orang yang menerima fasilitas sepertl itu menikmati subsidi penghormatan dari umatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar